Perjalanan Haji Orang Melayu di Tahun 1400-1900 M, Dari Laksamana Hang Tuah sampai Tok Kenali

Kapal Kuala Lumpur, kapal yang membawa jemaah haji ke Makah bersiap untuk lepas tali dari Pelabuhan Pulau Pinang (Swettenham Pier). (Gambar: BERNAMA)

MARHB– Perjalanan ibadah haji masyarakat Melayu pada periode 1400 hingga 1900 Masehi menjadi bukti kuatnya hubungan antara budaya Melayu dan ajaran Islam. Pada masa itu, jamaah haji dari Tanah Melayu melakukan perjalanan panjang menuju Tanah Suci menggunakan kapal laut. Mereka biasanya berlayar selama berbulan-bulan sebelum tiba di Pelabuhan Jeddah, lalu melanjutkan perjalanan ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Meski belum diketahui secara pasti siapa orang Melayu pertama yang berhasil menunaikan ibadah haji, sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Melayu telah lama melakukan perjalanan ke Mekah sejak berkembangnya Islam di Nusantara.

Wan Zahari Wan Mahmud dan Ahmad Faisal Abul Hamid, dalam tulisannya berjudul “Sejarah Perkembangan jemaah Haji dari Tanah Melayu (1400-1900 M)” menyebutkan ada beberapa tokoh Melayu yang tercatat pernah menunaikan haji. Antara lain Laksamana Hang Tuah, Syekh Abdul Malek bin Abdullah atau Tuk Pulau Manis, Sayyid Muhammad bin Zainal Abidin al-Idrus atau Tuk Ku Tuan Besar, Abdullah Munsyi bin Abdul Kadir, hingga ulama terkenal Kelantan, Tok Kenali.

Baca juga: Iduladha 1447 H/2026, Masjid Agung Raja Hamidah Batam akan Sembelih Sapi Kurban Presiden

Dalam jurnal Al-muqaddimah ini, juga dijelaskan sebelum berangkat ke Tanah Suci, calon jamaah haji Melayu diketahui melakukan berbagai persiapan, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun materi. Persiapan tersebut penting untuk menghadapi berbagai tantangan selama perjalanan laut yang panjang dan penuh risiko. Dengan bekal kesiapan tersebut, jamaah haji Melayu mampu menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan khusyuk saat berada di Mekah.

Perjalanan haji melalui jalur laut pada masa itu bukanlah hal mudah. Jamaah harus menghadapi cuaca buruk, keterbatasan logistik, hingga perjalanan yang memakan waktu sangat lama. Namun, semangat masyarakat Melayu untuk menyempurnakan ibadah haji tetap tinggi karena mereka meyakini bahwa haji merupakan puncak kesempurnaan dalam menjalankan ajaran Islam.

Ilustrasi-MARHB

Sejarah perjalanan haji masyarakat Melayu ini juga menggambarkan kuatnya keimanan umat Islam di Nusantara pada masa lampau. Meski harus menempuh perjalanan jauh dengan segala keterbatasan, mereka tetap berusaha menjadi Muslim yang taat dan mampu menyelesaikan manasik haji dengan penuh kesabaran.

Pengalaman spiritual tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk bercita-cita menjadi tamu Allah di Tanah Suci.

Scroll to Top