
MARHB– Namanya mungkin tak asing di telinga umat Muslim Indonesia. Ceramah-ceramahnya yang humoris dan khas mudah ditemukan di berbagai platform digital. Dia adalah Ustad Abdul Somad (UAS) pendakwah dengan jutaan pengikut yang kisah hidupnya penuh warna. Dari seorang santri desa di Sumatera Utara hingga menjadi profesor tamu di Brunei Darussalam.
Bersama Ustad Salim A. Fillah; Ustad Lukmanul Hakim; dan Aktor Indonesia, Ari Untung; Ustad Abdul Somad akan hadir dalam Tabligh Akbar bertajuk “Indahnya Merayakan Cinta” di Masjid Agung Raja Hamidah Batam (MRHB) pada Sabtu, 27 Juni 2026. Tabligh Akbar ini ditaja Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Batam bersama Hijrah Fest.
Perjalanan UAS hingga menjadi salah satu dai paling populer di Indonesia tidak lepas dari latar belakang pendidikannya di Timur Tengah. Popularitas UAS juga didukung oleh optimalisasi sosial media. Salah satunya adalah YouTube, yang tidak hanya menjadi media dakwah kontemporer, tetapi juga sarana untuk membangun dan memperkuat otoritas keagamaan tradisional UAS (Triantoro, 2020).
Latar Belakang dan Pendidikan
Ustad Abdul Somad lahir di Silo Lama, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, pada 18 Mei 1977. Ia adalah putera dari pasangan Bakhtiar dan Rohana. Dari pihak ibu, garis keturunannya bersambung kepada Syekh Abdurrahman, seorang ulama sufi beraliran Tarekat Sattariyyah yang dijuluki Tuan Syekh Silau Laut I (Qohar & Yusuf, 2018).
Sejak kecil, UAS sudah dididik di lingkungan berbasis Tahfiz Al-Qur’an. Pendidikan formalnya dimulai di SD Al-Washliyah Medan (lulus 1990), lalu MTs Mu’allimin Al-Washliyah Medan (lulus 1993), dan sempat belajar setahun di Pesantren Darul Arafah, Deliserdang. Pada 1994, ia merantau ke Riau untuk melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek, Indragiri Hulu, dan lulus pada 1996. Sebelum berangkat ke luar negeri, ia sempat kuliah dua tahun di UIN Sultan Syarif Kasim Riau (Qohar & Yusuf, 2018).
Baca juga: Tabligh Akbar KNPI Kota Batam dan Hijrah Fest Hadirkan UAS di Masjid Agung Raja Hamidah
Pendidikan tinggi UAS di luar negeri menjadi fondasi utama karirnya. Pada 1998, ia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Mesir untuk belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia terpilih sebagai salah satu dari 100 penerima beasiswa dari 900 peserta seleksi. Di Al-Azhar, ia menyelesaikan studi S1 dalam waktu 3 tahun 10 bulan dan meraih gelar Licentiate (Lc) pada pertengahan 2002 (Qohar & Yusuf, 2018; “Profil Ustaz Abdul Somad,” 2024).
Setelah sempat kuliah dua semester di Universiti Kebangsaan Malaysia, pada 2004 ia kembali meraih beasiswa. Kali ini dari Kerajaan Maroko melalui Agence Marocaine de Coopération Internationale (AMCI) untuk program S2 di Institut Darul-Hadits Al-Hassaniyah, Rabat. Institut ini terkenal sangat selektif, hanya menerima 20 mahasiswa setiap tahun, dengan 15 dari Maroko dan 5 dari luar negeri.
UAS berhasil menyelesaikan program S2 dalam waktu 1 tahun 11 bulan dan meraih gelar Diplôme d’Etudes Supérieurs Approfondies (D.E.S.A.) pada akhir 2006 (Qohar & Yusuf, 2018). Ia kemudian melanjutkan pendidikan S3 hingga meraih gelar Ph.D. dari Universitas Islam Omdurman, Sudan, pada tahun 2019 (Triantoro, 2020; “Profil Lengkap Ustaz Abdul Somad,” 2026).
Karier dan Dakwah
Sepulang dari menuntut ilmu, UAS mengabdikan diri sebagai dosen di UIN Sultan Syarif Kasim Riau sejak 2009 hingga 2019, mengajar Bahasa Arab, Tafsir, dan Hadis. Ia juga aktif di berbagai organisasi keagamaan, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau dan Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il NU Provinsi Riau (Qohar & Yusuf, 2018; “Profil Ustaz Abdul Somad,” 2024).
Namun, popularitasnya sebagai pendakwah meledak berkat video-video ceramahnya di YouTube. Tiga konsep utama memengaruhi dinamika perubahan otoritas keagamaan UAS di YouTube: sifat teknologi YouTube itu sendiri, peran para penggemar UAS, dan bentuk-bentuk estetika dalam ceramah UAS (Triantoro, 2020).
Gaya penyampaiannya yang lugas, berbasis dalil, dan diselingi humor dinilai mudah dicerna oleh masyarakat luas. Ia menjadi salah satu dai dengan pengikut terbanyak di media sosial, dikenal sebagai “Ustadz Zaman Now” yang berhasil menjembatani kajian fikih dan hadis dengan isu-isu kontemporer (Qohar & Yusuf, 2018; Priyanto, 2022).
Ia juga dikenal sebagai penulis produktif dengan sejumlah buku, seperti 37 Masalah Populer; 99 Pertanyaan Seputar Sholat; dan 33 Tanya Jawab Seputar Qurban; (Somad, 2018; Qohar & Yusuf, 2018).



