Ustad Salim A. Fillah, Dai dengan Gaya Dakwah Sastra yang Menyentuh Hati

Salim Akhukum Fillah. Foto: Generated by AI.

MARHB– Di tengah derasnya arus dakwah digital di Indonesia, muncul sosok pendakwah dengan gaya khas yang memadukan kedalaman ilmu, keindahan sastra, dan sentuhan budaya lokal. Dia adalah Ustad Salim A. Fillah, seorang penulis produktif, dai, dan penggiat masjid yang namanya mulai dikenal luas sejak awal 2000-an melalui karya-karya tulisnya yang inspiratif.

Ustad Salim A. Fillah akan hadir dalam Tabligh Akbar bertajuk “Indahnya Merayakan Cinta” di Masjid Agung Raja Hamidah Batam (MRHB) pada Sabtu, 27 Juni 2026. Tabligh Akbar ini ditaja Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Batam bersama Hijrah Fest.

Pemilik nama lengkap Salim Akhukum Fillah atau Arif Nursalim ini lahir di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 21 Maret 1984 (Qodariah, 2024). Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kecintaannya pada dunia literasi. Ayahnya yang seorang guru bahasa Indonesia turut mendukung minatnya, dan bakat menulisnya mulai terasah saat ia duduk di bangku SMA Teladan Yogyakarta (Qodariah, 2024; Jejak Imani, 2025).

Perjalanan Pendidikan
Salah satu sisi menarik dari perjalanan hidup Ustad Salim adalah latar belakang pendidikannya yang tidak sepenuhnya beririsan dengan dunia pesantren atau ilmu agama. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) dan juga sempat kuliah di Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Namun, ia tidak menyelesaikan studi di kedua jurusan tersebut (Qodariah, 2024).

Meskipun tidak menempuh pendidikan formal di pesantren, Ustad Salim aktif dalam berbagai kegiatan dakwah kampus. Ia mendalami ilmu agama secara mandiri dan melalui bimbingan dari berbagai guru. Perjalanan unik inilah yang membentuk dirinya menjadi sosok yang mampu memadukan logika ilmiah dengan keindahan bahasa sastra, menciptakan gaya dakwah yang khas dan sulit ditiru (Tebuireng Online, 2025; Qodariah, 2024).

Penulis dan Dai
Nama Ustad Salim mulai dikenal secara luas pada tahun 2003 ketika ia menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan melalui penerbit Pro-U Media. Buku tersebut menjadi titik balik kariernya dan sekaligus menjadi buku pertama yang diterbitkan oleh Pro-U Media (Jejak Imani, 2025).

Baca juga: Ustad Abdul Somad, Santri Desa jadi Dai Berjuta Penggemar

Sejak itu, ia terus produktif menulis. Beberapa karya populernya antara lain Agar Bidadari Cemburu Padamu (2004); Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim (2007); Jalan Cinta Para Pejuang (2008); Dalam Dekapan Ukhuwah (2010); dan Lapis-Lapis Keberkahan (2014) (Qodariah, 2024). Buku-buku ini menggabungkan perspektif Islam klasik dengan konteks kehidupan modern, sehingga relevan bagi generasi muda yang hidup di era digital (Tebuireng Online, 2025).

Selain menulis, Ustad Salim juga aktif dalam kegiatan dakwah. Ia merupakan penggiat Masjid Jogokariyan Yogyakarta dan menjadi pengasuh Majelis Jejak Nabi, sebuah kajian yang membahas sirah (sejarah hidup) Nabi Muhammad SAW di masjid tersebut (Tribunnews, 2024; Qodariah, 2024).

Gaya Dakwah
Strategi komunikasi dakwah Ustad Salim A. Fillah memiliki karakteristik yang khas. Dalam penyampaian pesan dakwahnya, ia membangun kredibilitas, daya tarik, dan kekuatan. Pesan-pesan yang disampaikannya mengandung hikmah, membangkitkan semangat juang, dan dibalut dengan diksi-diksi sastra yang indah serta sentuhan humor yang segar (Garuda, 2021; FID BAU digital, 2021).

Ia juga dikenal karena pendekatannya yang moderat dan penuh hikmah. Ustad Salim mampu menghubungkan ajaran Islam dengan tantangan kehidupan modern tanpa kehilangan esensi keislaman. Kemampuannya merangkul perbedaan dan menekankan pentingnya adab dalam kehidupan sehari-hari menjadikannya sosok yang mudah diterima oleh berbagai kalangan, terutama kaum muda (Tebuireng Online, 2025).

Salah satu strategi dakwah uniknya adalah merepresentasikan keris sebagai warisan budaya Nusantara dalam konten dakwahnya di platform YouTube. Melalui pendekatan historis, ia menarasikan keris dalam konteks sejarah persebaran Islam di Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan kemampuannya menjembatani antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal, menjadikan dakwahnya lebih kontekstual dan mudah diterima oleh masyarakat yang mencintai budaya (Sayekti et al., 2024).

Aksi Sosial
Nama Ustad Salim kembali mencuat ke publik pada akhir tahun 2024 ketika ia memberikan beasiswa pendidikan kepada anak-anak seorang penjual es teh yang sempat menjadi viral karena dihina oleh seorang tokoh agama. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @salimafillah_official, ia menuliskan komitmennya untuk membantu pendidikan anak-anak tersebut (Tribunnews, 2024; Sindonews, 2024).

Aksi ini mencerminkan kepedulian sosial yang tinggi dan konsistensinya dalam mengajak kepada kebaikan. Ustad Salim membuktikan bahwa dakwah tidak hanya melalui lisan dan tulisan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang membantu sesama.

Selain sebagai penulis dan dai, Ustad Salim juga aktif dalam berbagai organisasi keagamaan. Ia pernah menjadi staf di Biro Dakwah Forum Silaturrahim Remaja Masjid Yogyakarta dan Departemen Pembinaan KSAI Al Uswah. Saat ini, ia juga menjabat sebagai komisaris di travel umrah Jejak Imani (Qodariah, 2024; Jejak Imani, 2025).

Di era digital, Ustad Salim memanfaatkan platform media sosial secara maksimal. Akun Instagram pribadinya (@salimafillah_official) pernah mencapai 1,4 juta pengikut sebelum ditangguhkan oleh pihak Meta, dan ia kemudian membuat akun baru yang kini terus bertumbuh (Qodariah, 2024). Ia juga aktif di YouTube, Twitter, dan Facebook untuk menyebarkan dakwahnya (Qodariah, 2024).

Hal-Hal yang Menginspirasi dari Ustad Salim A. Fillah
Ada beberapa nilai inspiratif yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Ustad Salim A. Fillah:

  1. Konsistensi dalam Menulis sejak Usia Muda
    Sejak SMA, ia sudah tekun menulis dan mengikuti berbagai lomba. Kegigihannya inilah yang akhirnya membawanya menjadi penulis produktif dengan puluhan judul buku (Jejak Imani, 2025).
  2. Keberanian Mengambil Jalan yang Tidak Biasa
    Latar belakang pendidikannya di teknik dan psikologi tanpa ijazah tidak menyurutkan langkahnya untuk berkarya. Ia membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu harus melalui jalur formal (Qodariah, 2024).
  3. Kemampuan Memadukan Tradisi dan Modernitas
    Ia mampu menyajikan dakwah dengan pendekatan sastra yang indah, sentuhan humor, serta relevansi dengan isu-isu kekinian tanpa meninggalkan landasan Al-Qur’an dan Hadis (Tebuireng Online, 2025; Qodariah, 2024).
  4. Kepedulian Sosial yang Nyata
    Aksi memberik beasiswa kepada anak penjual es teh menunjukkan bahwa dakwah harus disertai tindakan nyata dalam membantu sesama (Tribunnews, 2024; Sindonews, 2024).
  5. Pendekatan Dakwah yang Inklusif dan Moderat
    Kemampuannya merangkul perbedaan dan menekankan pentingnya adab serta persatuan umat menjadikannya sosok yang disegani oleh berbagai kalangan (Tebuireng Online, 2025).
Scroll to Top