
MARHB– Perjalanan seorang santri sering kali dimulai dari langkah kecil, namun bisa berujung pada dampak besar bagi umat. Itulah yang terlihat pada sosok Ustadz Luqmanul Hakim, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Masjid Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kontribusinya dalam bidang sosial, khususnya melalui Gerakan Infaq Beras (GIB), telah dirasakan oleh ratusan ribu anak yatim dan santri di seluruh Indonesia (ANTARA News Kalimantan Barat, 2020).
Untuk diketahui, Ustadz Luqmanul Hakim akan hadir dalam Tabligh Akbar bertajuk “Indahnya Merayakan Cinta” di Masjid Agung Raja Hamidah Batam (MRHB) pada Sabtu, 27 Juni 2026. Tabligh Akbar ini ditaja Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Batam bersama Hijrah Fest.
Dari Gontor ke Malaysia
Ustadz Luqmanul Hakim mengawali pendidikan formalnya di kampung halaman sebelum memutuskan merantau ke Pulau Jawa. Langkah besar dalam pendidikan agamanya dimulai ketika ia memilih menuntut ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, dan menyelesaikan pendidikan menengahnya di KMI Gontor pada tahun 2003 (Pondok Modern Darussalam Gontor, 2026).
Semangat intelektualnya kemudian membawanya melanjutkan pendidikan S1 di Institut Studi Islam Darussalam Gontor yang kini menjadi Universitas Darussalam Gontor, dan meraih gelar Sarjana Ekonomi Islam pada tahun dua ribu tujuh (Fitriani, 2021).
Tidak berhenti di situ, ia merambah dunia internasional dengan meraih gelar Master of Arts dalam bidang Public Relations dari International Islamic University Malaysia (IIUM) di Kuala Lumpur pada tahun 2008 (Fitriani, 2021). Kombinasi pendidikan pesantren klasik dan studi komunikasi modern inilah yang kelak menjadi bekal utamanya dalam berdakwah dan mengelola gerakan sosial yang luas.
Cerita Di Balik Gerakan
Perjalanan dakwah Ustadz Luqmanul Hakim tidak selalu mulus. Dalam tausiahnya di acara Tabligh Akbar Peringatan Seratus Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor pada delapan Juni 2026, ia menceritakan masa sulit yang dialaminya setelah pulang dari Malaysia pada tahun 2012. Ia mengungkapkan bahwa pada awal merintis hidup, ia hanya bermodalkan tujuh puluh lima ribu rupiah (Pondok Modern Darussalam Gontor, 2026).
Baca juga: Ustad Salim A. Fillah, Dai dengan Gaya Dakwah Sastra yang Menyentuh Hati
Titik balik besar terjadi dari sebuah keprihatinan yang menggugah hatinya. Suatu ketika, ia melihat beras yang dikonsumsi para santri di sebuah pondok pesantren tidak memiliki kualitas yang baik, kotor, berkutu, dan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari (Fitriani, 2021). Ustadz Luqmanul Hakim kemudian ingin menjadi perantara yang menghubungkan antara orang-orang mampu dengan para santri, anak yatim, dan penghafal Al-Qur’an (Fitriani, 2021).
Dari keprihatinan itulah, pada tahun dua ribu dua belas, Gerakan Infaq Beras (GIB) mulai dirintis (ANTARA News Kalimantan Barat, 2020). Dalam wawancaranya dengan ANTARA News Kalimantan Barat (2020), ia menceritakan bahwa gerakan ini dimulai dari tiga pondok pesantren dan terus berkembang hingga menjadi gerakan nasional.
Ekspansi Gerakan dan Dampak Sosial
Apa yang dimulai dari tiga pondok pesantren itu kini telah berkembang menjadi gerakan besar. Berdasarkan laporan ANTARA News Kalimantan Barat (2020), GIB telah tersebar di 23 provinsi dan mampu menyalurkan 517 ton beras ke ribuan pondok pesantren setiap bulan. Penelitian Fitriani (2021) mencatat bahwa pada tahun 2019, GIB telah menyalurkan 350.000 kilogram beras setiap bulan ke sekitar seribu 800 pesantren dan panti asuhan, dengan penerima manfaat sekitar seratus 40.000 santri dan anak yatim.
Ustadz Luqmanul Hakim menyadari bahwa gerakan ini tidak bisa berjalan sendiri. Maka dibentuklah Pasukan Amal Sholeh (PASKAS), sebuah jaringan relawan yang bertugas memastikan donasi dari para orang tua asuh dapat tersampaikan dengan baik. Fitriani (2021) menjelaskan bahwa PASKAS merupakan kumpulan orang-orang yang peduli dan rela membantu kemaslahatan umat dengan harapan mendapatkan ridha Allah. Jumlah relawan PASKAS yang tersebar di Indonesia mencapai sekitar 2.500 orang (ANTARA News Kalimantan Barat, 2020).
Masjid Kapal Munzalan
Di balik suksesnya gerakan ini, terdapat sebuah masjid yang menjadi markas sekaligus sumber inspirasi, Masjid Kapal Munzalan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Masjid Kapal Munzalan pertama kali didirikan oleh H. Muhammad Nur Hasan di Kubu Raya pada tahun 2012, dan pada tahun 2013 pengelolaannya diserahkan kepada Ustadz Luqmanul Hakim.
Masjid ini memiliki keunikan tidak hanya pada bentuknya yang menyerupai kapal, tetapi juga pada kemampuannya mengelola puluhan lembaga amal yang tergabung dalam Baitulmaal Munzalan Indonesia. Untuk memperkuat fungsi masjid sebagai pusat keagamaan, pada tahun dua ribu empat belas didirikan Pondok Masjid Munzalan Ashabul Yamin (PMMAY) yang bertujuan mendukung kegiatan kemakmuran masjid melalui pendidikan dan pembinaan umat. Masjid ini berada di kawasan yang mayoritas penduduknya non-muslim, namun aktivitas masjid tetap berjalan harmonis dengan warga sekitar (ANTARA News Kalimantan Barat, 2020).
Baca juga: Ustad Abdul Somad, Santri Desa jadi Dai Berjuta Penggemar
Inspirasi
Perjalanan Ustadz Luqmanul Hakim mengajarkan bahwa sebuah kebaikan besar sering kali dimulai dari gerakan kecil yang tulus. Dalam tausiahnya di hadapan siswa kelas akhir KMI Gontor pada dua puluh dua Februari tahun 2026, ia mengingatkan bahwa “orang tidak akan pernah melihat kita masa lalu dan di masa kini, akan tetapi tentang bagaimana kita berbuat baik setelah berbuat salah” (Pondok Modern Darussalam Gontor, 2026).
Ia juga menekankan bahwa keberkahan dan keridhoan kiai lebih penting daripada ilmu itu sendiri. “Ilmu itu tidak hanya sekadar hafal tapi yang lebih penting itu keberkahan dari ilmu itu sendiri,” ujarnya di hadapan para santri.
Dua hal yang harus diraih seorang santri, katanya, adalah ridho orang tua dan ridhonya para kiai (Pondok Modern Darussalam Gontor, 2026). Dalam sambutannya di acara Tabligh Akbar Seratus Tahun Gontor, ia mengajak para lulusan untuk tetap menjaga hubungan dengan pondok dan para kiai sebagai sumber keberkahan dalam kehidupan (ANTARA News, 2026).
Pada kunjungannya ke Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam Gontor pada lima Maret tahun 2025, ia memberikan motivasi bagi mahasiswa untuk terus berproses menjadi tenaga medis yang profesional sekaligus berjiwa Islami dan penuh kepedulian sosial (Universitas Darussalam Gontor, 2025).
Dari kondisi beras berkutu dan keterbatasan modal, lahirlah gerakan sedekah yang mengalirkan puluhan ton beras setiap bulannya. Dari garasi rumah, lahir jaringan relawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Itulah perjalanan inspiratif Ustadz Luqmanulhakim, seorang santri yang membuktikan bahwa berbagi tanpa batas adalah jalan menuju keberkahan.



